Warren Buffett; 10 Pelajaran Hidup Investor Sukses
January 26, 2020
tugu jogja cover
Wisata Jogja dan Kenangan Angkringan; Catatan Kerinduan
January 26, 2020

Pengalaman Belajar Desain Grafis Secara Otodidak

belajar desain

Kali ini saya akan berbagi tentang bagaimana pengalaman belajar desain grafis secara otodidak. Ternyata semakin sederhana sebuah desain, semakin kompleks prosesnya.

1. Awal Belajar Desain Grafis

Awalnya saya berpikir demikian sederhana, just draw it. Gambar saja sebebas yang kamu inginkan. Tak perlu memikirkan berbagai aturan. Toh tidak ada hukum tentang desain harus seperti ini dan seperti itu. Di suatu kesempatan, saya mencoba menggali memory digital, dan beruntung ternyata masih ada berkas desain yang pertama kali saya buat di tahun 2011, ini dia penampakannya.

desain-pertama

Bagaimana? Sangat original dan begitu indah bukan? Pertanyaan berikutnya adalah “apakah ini bisa disebut desain?” Tentu saja jawabannya “YES” ini adalah desain. Tetapi kata “YES” tersebut berlaku hanya saya pada saat itu. Mengaaat demikian? Karena kata YES tersebut sudah ganti status menjadi “NO, there is no design there.”

Gambar tersebut gak punya desain sama sekali. Mungkin kamu akan bertanya, “Loh, ko berubah? Gak konsisten nih.” Perubahan status tersebut terjadi seiring dengan standard desain yang saya buat sendiri. Design skills itu harus berevolusi. Dan standard desain yang saya pegang saat ini sudah lebih tingi dibanding saat itu.

2. Underestimate Design

Saya kesel banget sama orang yang meremehkan sebuah desain. Kalau orang itu gak belajar design sih masih wajar, tetapi yang lebih ngeselin adalah orang yang baru belajar desain tetapi ingin hasil yang luar biasa. Come on guys, desain itu berevolusi. Dan evolusi itu terjadi melalui proses yang tidak sebentar.

Coba perhatikan gambar desain pertama saya di atas, butuh waktu sekitar 2 sampai 3 hari buat memikirkan dan menyelesaikan gambar tersebut. Mungkin kalau ada guru yang mendampingi bisa selesai lebih cepat, tetapi bisa dikatakan saya belajar secara otodidak. Biasanya saya belajar hanya dengan mengandalkan searching googleyoutube, atau dari blog tutorial desain.

Listen guys, balita usia 1 tahun biasanya mulai belajar untuk berdiri dan berjalan. Apakah di usia tersebut mereka berhasil berdiri hanya dengan 1 kali percobaan? Apakah mereka bisa berjalan melangkahkan kaki hanya dengan 1 kali percobaan? Pasti kita akan jawab “TIDAK.” Sama seperti desain, butuh pengulangan berkali-kali untuk bisa menghasilkan desain yang semakin baik dan lebih baik lagi. Mari kita sebut ini sebagai repetition.

3. Make it Simple

Waktu masih kuliah di Jogja, saya bertemu dengan seorang kawan berinisial Mufid Salim. Kami bertemu di sebuah komunitas anak muda yang masih eksis sampai saat ini yaitu “Young On Top Yogyakarta.” Saat itu saya diberi arahan untuk membuat sebuah desain dengan visual yang lebih simple/sederhana namun seluruh informasi dapat tersampaikan dengan baik dalam desain tersebut.

Tidak bisa dipungkiri, saat itu kami berdua sama-sama terinspirasi dengan konsep simplicity design yang dibawa oleh Steve Jobs, founder Apple. Saya pun berusaha membuat sebuah design yang lebih sederhana, dan berikut ini visualnya.

desain aris prayitno

Dengan software/aplikasi yang sama, saya bisa menghasilkan kualitas desain yang berbeda. Sampai di tahap ini, butuh proses pembelajaran yang berulang. Jadi tolong, buat yang baru banget belajar desain untuk jangan pernah berhenti belajar, repetition is a must. Gak akan pernah ada hasil yang instant.

4. Gender Design

Pertengahan 2017 saya hijrah ke ibukota Indonesia. Dan pekerjaan pertama saya adalah “gak jelas.” Maksud saya, saya merangkap beberapa pekerjaan seperti desain, administrasi, marketing, sampe tukang angkat barang.”

Di perusahaan tersebut saya mendapat kritik “desain kamu terlalu masculine.” Dalam hati saya berkata “ya jelas lah, saya kan cowok sejati, jantan.” Hahaha.

Saya baru tahu kalau desain itu punya gender, ada masculine dan feminine. Berhubung produk perusahaan saya pada saat itu banyak dikonsumsi oleh kaum hawa, maka dari itu desain saya banyak yang gak cocok diterapkan di sana. Coba perhatikan ilustrasi berikut ini.

comparison-product

Keduanya memiliki jenis produk yang sama yaitu susu, namun jumlah mayoritas konsumennya berbeda. Produk sebelah kiri memiliki mayoritas konsumen pria, sedangkan sebelah kanan mayoritas konsumennya adalah wanita.

Perhatikan konsep desain yang ditampilkan oleh keduanya dan rasakan semua elemen desain yang digunakan. Desain kemasan sebelah kiri menggunakan warna yang strong, hitam. Ditambah dengan lekuk bentuk yang tajam seperti bentuk persegi panjang, dll.

Sekarang rasakan konsep design kemasan sebelah kanan. Penggunaan warna yang lebih soft ditambah tidak ada bentuk patahan atau lancip, melainkan garis-garis yang melengkung.

Kedua kemasan tersebut tidak menampilkan foto pria ataupun wanita, tapi dari kemasan tersebut tampak jelas bahwa sebelah kiri adalah produk dengan konsumen mayoritas pria, sedangkan sebelah kanan adalah produk dengan konsumen mayoritas wanita.

Jadi jelas bahwa desain memiliki gender, masculine and feminine. Konsep ini diterapkan unuk berbagai macam penggunaan desain baik untuk kemasan, publikasi iklan, social media, dll.

Aris Prayitno
Aris Prayitno
Hai... saya Aris. Saya ingin sharing sama kamu tentang banyak hal, termasuk pengembangan teknologi digital kekinian. Jika kamu suka atau memiliki saran untuk artikel ini, silahkan tinggalkan komentar dan bagikan artikel ini dengan klik tombol sharing yang tersedia. Ayo berbagi ilmu, berbagi kebaikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy link
Powered by Social Snap