introduction pembuatan website cover
Introduction Pembuatan Website Sebagai Media Digital Marketing
July 19, 2020

Alur Pembuatan Website Bisnis dengan Konsep Manajemen Waterfall

alur pembuatan website cover

alur pembuatan website cover

Alur pembuatan sebuah website sangat beragam, namun kualitas hasilnya dapat diprediksi dengan melihat manajemen development yang digunakan. Dan pada kesempatan ini saya akan berbagi wawasan kepada Anda bagaimana alur pembuatan sebuah website bisnis menggunakan manajemen waterfall.

1. Analisis Kebutuhan Bisnis

Pada introduction pembuatan website, saya sempat menyinggung sedikit tentang masterplan project development. Pada tahap ini kedua belah pihak, yaitu client dan tim development mendiskusikan kebutuhan website seperti apa yang diinginkan oleh client.

Keduanya akan merumuskan flow system dari website tersebut, serta fungsi-fungsi penunjangnya. Sebagai gambaran, perhatikanlah contoh flow system alur pembelian untuk website jenis e-commerce berikut ini.

flow system development

Dari flow system tersebut maka akan bisa dirumuskan fungsi-fungsi penunjang yang diperlukan, seperti sistem checkout, metode pembayaran, integrasi kurir pengiriman, dan sebagainya.

2. Pembuatan UI/UX Design

Setelah masterplan project development disepakati, proses berikutnya adalah menyiapkan design dari seluruh halaman yang ada di dalam website. Pada tahap ini penting untuk memperhatikan detail dari setiap halaman seperti penggunaan warna, layout, bentuk button, slider banner, dan seterusnya.

Design yang sudah dibuat, harus direview oleh client maupun tim development. Client perlu mereview dari sisi visualnya apakah sudah sesuai dengan company brand bisnis. Sedangkan tim development perlu mereview dari sisi posibilitas seluruh fungsi yang ada di dalamnya, dan memastikan sudah sesuai dengan sitemap guideline.

3. Proses Development

Tahap ini merupakan bagian inti dari pembuatan website. Umumnya tahap development terbagi menjadi dua bagian, yaitu pekerjaan frontend dan backend. Seperti namanya, frontend memiliki kata “front” yang berarti depan. Maka pekerjaan frontend adalah membuat tampilan depan atau tampilan visual dari website agar sesuai dengan design yang disepakati. Biasanya tim frontend melakukan beberapa improvisasi seperti permainan hover (zoom), animasi, dan sebagainya.

Sedangkan pekerjaan backend bisa disebut sebagai pekerjaan di belakang layar. Maksudnya adalah membangun fungsi-fungsi yang ada di dalam website. Sebagai ilustrasi, jika pengunjung website mengisi sebuah form, maka pesan di dalam form tersebut akan dikirimkan oleh sistem ke alamat email tertentu bukan? Nah, tugas dari tim backend adalah melakukan pengaturan seperti bagaimana teknik pengiriman emailnya, menentukan alamat email siapa yang dituju, dan seterusnya.

4. Quality Control / Quality Assurance

Tahap ini merupakan pengecekan seluruh website setelah tahap development selesai. Tim quality assurance akan melakukan pengujian pada seluruh fungsi yang ada. Sebagai contoh, jika website yang dibuat adalah jenis e-commerce, maka tim quality assurance akan melakukan pengecekan proses checkout, pembayaran, order history, live chat dan seterusnya.

Jika ditemukan fungsi yang belum bekerja dengan baik, maka tim quality assurance akan menuliskan catatan error issue. Catatan ini nantinya akan diberikan kepada tim development untuk dilakukan perbaikan. Siklus antara tim quality assurance dan tim development akan terus berlangsung sampai fungsi website benar-benar sempurna sesuai dengan masterplan project.

5. Content/Data Entry and Go-LIve

Setelah melalui beberapa tahapan di atas, maka website siap untuk diisi konten baik berupa teks, gambar maupun video. Kemudian jika semua sudah terisi lengkap, tim dapat melanjutkan ke tahap website launching. Istilah yang sering digunakan dalam tahap ini adalah Go-Live, yaitu website sudah bisa diakses oleh publik.

6. Server and Maintenance

Pasca Go-Live, sebuah website biasanya akan masuk fase maintenance. Kejadian beberapa error mungkin saja terjadi, seperti pesan gagal terkirim, website sulit diakses, dan sebagainya. Faktor-faktor penyebab error pun sangat beragam, baik itu dikarenakan human error ataupun system error. Oleh karena itu perlu adanya tim khusus yang menangani maintenance atau perawatan website.

Selain itu harus ada pengawasan server. Tentu saja hal ini menjadi penting, yaitu memastikan server aman dari malware serta mampu mencukupi kebutuhan website. Semakin banyak pengguna atau orang yang mengakses website, maka semakin banyak pula kebutuhan memori penyimpanan serta bandwidth server.

Aris Prayitno
Aris Prayitno
Hai... Saya Aris, IT Project Manager sekaligus penulis website ini. Semoga apa yang saya bagikan dalam tulisan ini bisa bermanfaat untuk Anda secara personal ataupun untuk bisnis Anda. Jika ada pertanyaan, silahkan meninggalkan pesan di kolom komentar atau bisa email saya dengan klik "Konsultasi Digital Tech" yang ada di menu kanan atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy link
Powered by Social Snap